Warga Sumba Tewas Saat Menolong Remaja Bali, Nyawa Dibayar Murah di Tengah Diamnya Solidaritas

waktu baca 2 menit
Selasa, 23 Des 2025 04:39 364 Redaksi

Klungkung, Bali — Tragedi kemanusiaan kembali membuka borok relasi sosial antara pendatang dan warga lokal. Seorang pria asal Sumba, Nusa Tenggara Timur, kehilangan nyawa saat menolong remaja warga Bali yang tenggelam, di Sungai Tukad Unda, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Minggu (21/12/2025) sore.

Korban bernama Ruben Radu Kaka (23), buruh asal Sumba yang selama ini hidup dan bekerja di Bali. Ironisnya, Ruben tewas bukan karena kelalaiannya sendiri, melainkan karena keberaniannya menolong, sesuatu yang justru jarang mendapat tempat dalam narasi sosial terhadap warga pendatang.

Peristiwa bermula sekitar pukul 15.00 WITA. Ni Komang Pande Arianti (14) bersama dua temannya berenang di aliran Tukad Unda—sungai yang sudah lama dikenal berarus deras dan rawan, namun minim rambu peringatan dan pengawasan. Arianti terseret arus kuat di bagian tengah sungai dan nyaris tenggelam.

Di saat situasi genting itu terjadi, Ruben tanpa pikir panjang terjun ke sungai. Tanpa alat keselamatan, tanpa pelampung, dan tanpa dukungan memadai. Ia berjuang melawan arus demi menyelamatkan nyawa orang lain. Namun upaya heroik itu berakhir tragis. Ruben kelelahan dan akhirnya ikut terseret arus bersama korban yang hendak ditolongnya.

Warga sekitar baru berusaha membantu setelah kondisi semakin kritis. Dua remaja lain berhasil diselamatkan, namun Ruben dan Arianti ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

Di balik tragedi ini, muncul suara-suara getir dari warga lokal sendiri. Bukan sekadar duka, melainkan kritik sosial yang selama ini terpendam.

“Orang Sumba sering dicap kasar, dicurigai, bahkan disalahkan. Tapi saat nyawa taruhannya, justru mereka yang maju duluan,” ujar seorang warga Paksebali.

Sindiran lain terdengar lebih menusuk dari seorang warga Ntr.

“Selama ini pendatang hanya dianggap tenaga murah. Tapi ketika jadi pahlawan, semua tiba-tiba bungkam.”

Tragedi ini seakan menampar wajah solidaritas sosial. Di mana keberanian seorang pendatang dibayar dengan nyawa, sementara sistem keselamatan wisata dan kesadaran kolektif justru absen. Sungai Tukad Unda bukan lokasi baru bagi kejadian berbahaya, namun hingga kini tak ada pengamanan serius, papan peringatan memadai, atau petugas siaga.

Lebih menyayat hati, istri Ruben yang sedang hamil harus menerima kenyataan pahit. Suaminya pulang bukan sebagai pekerja atau wisatawan, melainkan sebagai jenazah. Rencananya, jenazah Ruben akan dipulangkan ke Sumba, Nusa Tenggara Timur, kampung halaman yang akan menyambutnya sebagai pahlawan—meski negara dan sistem belum tentu mencatatnya demikian.

Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan. Ia adalah potret ketimpangan empati, kelalaian pengelolaan wisata, dan cara masyarakat memperlakukan pendatang. Ruben Radu Kaka telah pergi, namun pertanyaan yang ia tinggalkan masih menggantung

siapa yang bertanggung jawab ketika kemanusiaan justru dibalas dengan kematian? Ujar seorang warga NTT (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA