28 Unit Rumah Adat di Sumba Barat Terbakar Hangus, Pemerintah Tak Siapkan Damkar

waktu baca 2 menit
Sabtu, 6 Des 2025 02:30 70 Redaksi

MATAGOGALI.COM Sumba Barat, NTT — Sebanyak 28 unit rumah adat di Kampung Situs Yaruwora, Desa Patialabawa, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, hangus dilalap si jago merah pada Jumat, 5 Desember 2025, sekitar pukul 15.30 WITA. Kebakaran hebat ini menghanguskan salah satu kawasan budaya bersejarah di Pulau Sumba.

 

Kobaran api dengan cepat menjalar dari satu rumah adat ke rumah lainnya. Struktur bangunan rumah adat yang didominasi kayu dan atap ilalang membuat api sulit dikendalikan. Warga setempat hanya mampu berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya sambil menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan.

 

Ironisnya, hingga puluhan rumah adat terbakar, tidak satu pun mobil pemadam kebakaran diterjunkan ke lokasi kejadian. Kondisi tersebut memicu kekecewaan warga yang menilai pemerintah daerah tidak menyiapkan sistem penanggulangan kebakaran yang memadai, terutama bagi kawasan budaya yang sangat rentan terhadap bencana api.

 

“Api cepat sekali membesar. Kami sudah berusaha minta bantuan, tetapi tidak ada mobil damkar yang datang. Kami hanya bisa pasrah melihat rumah adat terbakar,” tutur salah seorang warga.

 

Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah daerah belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab kebakaran maupun alasan belum turunnya armada pemadam kebakaran. Kerugian sementara diperkirakan mencapai miliaran rupiah, mengingat nilai historis, budaya, dan spiritual rumah adat yang terbakar tidak dapat dinilai secara materi semata.

 

Kampung Situs Yaruwora dikenal sebagai pusat budaya dan penghasil tenun ikat kraja, sekaligus menjadi salah satu destinasi wisata berbasis adat di Kabupaten Sumba Barat. Kebakaran ini tidak hanya menghancurkan bangunan fisik, tetapi juga merenggut identitas dan ruang hidup budaya masyarakat setempat.

 

Peristiwa ini kembali menyoroti lemahnya kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam melindungi kawasan cagar budaya. Warga mendesak adanya evaluasi menyeluruh, penyediaan armada pemadam kebakaran yang memadai, serta kebijakan perlindungan khusus bagi rumah adat agar tragedi serupa tidak terulang kembali. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA